Filosofi

Mengurangi Sifat Memendam

Pernahkah kamu membenci seseorang, entah karena sikap nya, tindakan nya maupun keputusan nya…

Dan kamu menggumam, menyimpan dendam dan kebencian.

Dan bahkan, memprovokasi teman- teman mu untuk ikut serta agar membenci dirinya.

 

Namun, kenyataan yang kamu dapatkan hanyalah rasa kesal dan lelah yang menyakiti mu.

Dan teman- teman mu yang memang mendukung argumen mu, tapi tetap tidak melakukan perlawanan langsung kepada –nya.

Sungguh, kamu membencinya. Dan seringkali, kamu mengemukakan sikap ketidak-senangan mu kepada nya, entah dengan bagaimana.

Tetapi juga, entah kenapa.

Dia seakan- akan tidak ada respon. Tidak memiliki respon sedikitpun atas sikap mu.

Dia tidak menderita tekanan batin seperti mu.

Dia tertawa, tersenyum dan bercanda dengan teman- teman nya.

 

Lalu, untuk apa sikap memendam yang kamu miliki itu?.

Hanya untuk memberi tahu dia agar dia merubah sikap nya kepada mu?.

Tetapi, dia tidak tahu.

Bila mungkin dia tahu, dia pun tidak langsung begitu saja mengubah sikap nya –yang telah mendarah daging itu- kepada mu.

Ibuku dan kakek ku –yang tercinta- menginginkan ku untuk bersikap pasrah dan bersyukur, karena semua ini ada yang mengatur.

Bola kehidupan, bagi mereka akan berputar. Dan kita akan –dengan begitu saja- sampai di posisi atas, lalu orang yang ada di posisi atas akan berada di bawah. Suatu hari nanti –DENGAN BEGITU SAJA.

Tapi, roda itu tidak akan berputar jika tidak diputar.

Kehidupan tidak memiliki mata. Tidak ada yang mengatur. Dan sama sekali tidak memberi belas kasihan –KARENA KEHIDUPAN ITU BUTA.

Orang- orang yang percaya bahwa roda kehidupan akan berputar seperti demikian, akan mendapatkan kekecewaan ketika mendekati kematian.

Well, tidak masalah bila itu yang mereka inginkan. Yang asti, aku tidak memilih jalan yang mereka pilih.

Itu konsekuensi untuk mereka, dan aku tidak perlu memikirkan lebih jauh apa yang akan terjadi untuk mereka kelak.

Dan ini adalah konsekuensi ku, yang benar- benar telah siap ku ambil.

 

Selama ini, aku berfikir terlalu jauh. Sifat materialisme ini, tidak terkendali.

Keseimbangan kehidupan ini tidak ada yang mengatur. Dengan bukti ilmiah, terdapatnya orang gila.

Orang gila adalah orang yang kehilangan kendali dan keseimbangan.

Tidak akan ada yang akan memberitahu umat manusia sebuah kebenaran mutlak dan absolut.

Akupun tidak tahu, apakah suatu hari akan benar- benar muncul sang-maha, entah dari mana.

Tapi yang pasti, aku membatasi pengetahuan ku saat ini.

Tenggelam dalam kebodohan?, Tapi, apa peduli ku !?.

 

Aku melihat, dengan seuruh kesadaran ku, orang yang lemah –khususnya di tempat ini- akan di injak- injak.

Sungguh… aku melihat nya !?.

Meskipun batasan ku sebelumnya tentang sikap orang cukup tinggi. Namun, sekarang aku melonggarkan batasan ku tersebut.

Sekarang, aku MELONGGARKAN batasan ku.

Aku akan merespon, sikap yang menurutku keluar dari batasan ku.

Dengan cara yang paling mudah dan paling efektif. Bukan cara yang rumit namun dengan ke-efektivan yang sama (atau mungkin kurang efektif).

Akan kulakukan, apa yang harus ku lakukan. Titik.

Dan aku tidak peduli dengan ramalan masa depan dari kakek dan ibuku yang terkasih itu.

 

Yang pasti, dan yang terpenting, yang ku percayai saat ini…

Aku harus mengurangi sebesar mungkin, sikap memendam ini.

 

NOTE:

Judul Asli: Mengurangi sikap memendam dan penalaran dari mitos dogma orang tua terkasih- syair.

Oleh: WYR, Kudus, 15 April 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *